Rabu, 21 Oktober 2015

skripsi manajemen penanganan kandang dan sanitasi kandang pada ayam petelur.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
         Usaha ayam ras petelur sangat berperan dalam menyediakan telur untuk kebutuhan manusia.  Untuk daerah Aceh saja,  kebutuhan telur diperkirakan mencapai 1 juta butir per hari.  Jumlah telur sebanyak itu tidak dapat diandalkan dari ayam kampung saja  karena kemampuan produksinya yang rendah.   Oleh karena itu,   usaha ayam ras petelur butuh perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak termasuk pemerintah dan swasta.
         Kebutuhan telur di Aceh sampai saat masih bergantung dari luar, khususnya Sumatera Utara.   Pemerintah Aceh telah berusaha untuk mengurangi ketergantungan telur  dari daerah lain.   Usaha-usaha ayam ras petelur terus digalakkan, salah satunya adalah usaha ayam ras petelur UD. Niwatori Kuta Malaka yang berlokasi di Samahani kabupaten Aceh Besar.
        Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ayam petelur, antara lain adalah manajemen.  Manajemen termasuk di dalamnya manajemen teknis pemeliharaan, seperti perkandangan dan sanitasi.   Kedua hal ini tidak bisa diabaikan begitu saja,  kekeliruaan dalam  menyikapi kedua faktor ini menyebabkan kegagalan usaha.  Ayam-ayam yang dipelihara secara  intensif menghabiskan waktunya di kandang.   Disain kandang yang kurang baik dan suasana yang kurang nyaman mengakibatkan berkembangnya bibit penyakit yang berefek pada penurunan produksi bahkan kematian ayam.             
Sanitasi merupakan tindakan pengendalian penyakit melalui kebersihan. Oleh karena itu,  untuk memperoleh lingkungan yang bersih, higienis dan sehat,  tindakan sanitasi harus dilaksanakan dengan teratur.  Rendahnya tingkat sanitasi menimbulkan peluang yang sangat besar untuk berkembangnya suatu penyakit.   Kondisi seperti ini bisa ditekan dengan tindakan sanitasi dan pengelolaan yang baik.
Bibit penyakit sangat menyukai tempat-tempat yang lembab dan kotor.   Peternak harus berusaha menjaga kebersihan kandang sehingga ayam nyaman menempati kandangnya.  Peternak harus membersihkan kandang dengan rutin.  Istirahat kandang perlu diterapkan yang berguna untuk memutus mata rantai penyakit. Kunci dalam sanitasi kandang  adalah  rajin membersihkan tempat minum tempat makan ayam, dan pembuangan feces.    Berdasarkan hal uraian di atas,  penulis tertarik untuk melakukan kegiatan Praktek Lapang di usaha ayam ras petelur UD. Niwatori Kuta Malaka.   
  
1.2.   Tujuan
Tujuan dari kegiatan Praktek Lapangan ( PL ) adalah untuk meningkatkan dan memantapkan pengetahuan mahasiswa mengenai ilmu yang sudah diperoleh di bangku kuliah, serta menerapkan ke masyarakat, dan peternak mengenai manajemen penanganan kandang dan sanitasi kandang pada ayam petelur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.   Perkandangan Ayam  Petelur
Secara makro, kandang berfungsi sebagai tempat tinggal bagi unggas agar terlindung dari pengaruh-pengaruh buruk iklim (hujan, panas, dan angin) serta gangguan lainnya (hewan liar atau buas dan pencurian). Secara mikro, kandang berfungsi menyediakan lingkungan yang nyaman agar ternak terhindar dari cekaman (Suprijatna, 1999).   Menurut  Sudaryani dan Santosa ( 2003),  kandang yang nyaman dan memenuhi syarat akan memberikan dampak positif karena ternak menjadi tenang dan tidak stres.   Selanjutnya,  ternak akan memberikan imbalan produksi yang lebih baik bagi peternak pemelihara.   
Berdasarkan dindingnya, kandang dibagi menjadi 2, yaitu kandang dinding terbuka (open side house) dan kandang dinding tertutup (closed side house)  (Sudaryani dan Santosa,  2003)Kandang dinding terbuka adalah kandang yang semua sisinya terbuka dan biasanya hanya diberi pengaman dari kawat sehingga udara bisa keluar masuk dengan bebas (Sudaryani dan Santosa,  2003).   Masalah temperatur dapat diatasi dengan membuat sistem ventilasi udara yang baik yaitu dengan memberi kipas pada kandang  sehingga dapat mengurangi panas  (Annonimous, 2010)..  Sedangkan kandang dinding tertutup merupakan kandang yang semua dindingnya tertutup rapat,  pengaturan suhu udara, kelembaban, dan kecepatan angin oleh cooling system dan fan (kipas angin) yang digerakkan oleh tenaga  listrik (Sudaryani dan Santosa,  2003).
Menurut Rasyaf (2003), beberapa prinsip penting dalam mengatur tata letak kandang yaitu: 1) ayam tidak dapat ditempatkan di tempat yang ramai, terutama bila ayam petelur sudah bertelur, 2) ayam yang mempunyai umur yang berbeda tidak dapat ditempatkan dalam kandang yang sama, 3) jarak antar kandang ayam yang berumur tidak sama minimal 10 m, sedangkan kandang ayam yang berumur sama boleh saling berdekatan, dan 4) kemudahan dalam pengelolaan.
Kandang merupakan unsur penting dalam usaha peternakan ayam. Kandang dipergunakan mulai dari awal hingga masa berproduksi. Pada prinsipnya, kandang yang baik adalah kandang yang sederhana, biaya pembuatan murah, dan memenuhi persyaratan teknis (Martono, 1996). Bentuk kandang sebenarnya dapat dibangun sesuai selera dan kebutuhan peternak. Menurut Martono (1996) kandang yang biasa dipergunakan antara lain:
Ren. Kandang yang mempunyai halaman pengumbaran sehingga ayam dapat bergerak dengan bebas. Sistem kandang ini mempunyai dua bagian, yaitu bagian kandang utama dan umbaran. Keuntungan sistem ren adalah ayam akan mendapat cahaya matahari lebih, dan ayam bisa mendapatkan tambahan pakan dari bagian umbaran. Kerugiannya antara lain penyakit akan dapat menyebar secara cepat dan ayam yang produktif dan yang kurang produktif sulit dibedakan.
Cage. Bangunan kandang berbentuk sangkar berderet menyerupai batere dan alasnya dibuat berlubang (bercelah). Keuntungan sistem ini adalah tingkat produksi individual dan kesehatan masing-masing terkontrol, memudahkan tata laksana, penyebaran penyakit tidak mudah. Kelemahan sistem ini adalah biaya pembuatan semakin tinggi, ayam dapat kekurangan mineral, sering banyak lalat.

Litter. Merupakan kandang yang menggunakan litter sebagai alas kandang.Keuntungan sistem ini adalah biaya relatif rendah,menghilangkan bau kotoran,jika litter kering,pembuangan kotoran lebih mudah. Kekurangannya adalah penyeberan penyakit lebih mudah.
Panggung.Sistem ini biasanya dibuat diatas kolam ikan Bahan yang biasa digunakan untuk alas lantai adalah bambu yang dipasang secara berderet agar ayam tidak terperosok.Kelebihannya adalah sisa pakan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan,penyebaran penyakit relatif rendah. Kekurangannya jika jarak pemasangan bambu untuk alas terlalu lebar,akan dapat mengakibatkan ayam terperosok,biaya pembuatan relatif mahal.
2.2.   Sanitasi Kandang
Pengendalian penyakit sepenuhnya tergantung dari program pencegahan melalui perbaikan sanitasi kandang, pengasingan hewan yang sakit, dan vaksinasi (Akoso, 1993).   Sanitasi merupakan tindakan pengendalian penyakit melalui kebersihan. Untuk memperoleh lingkungan yang bersih, higienis dan sehat, tindakan sanitasi harus dilaksanakan dengan teratur (Suprijatna dan Kartasudjana, 2006).   Rendahnya sanitasi  menimbulkan peluang yang sangat besar untuk berkembangnya suatu bibit penyakit.  Masalah ini bisa ditekan dengan tindakan sanitasi dan pengelolaan yang baik.
Tindakan sanitasi dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan desinfekan di dalam dan di sekitar kandang secara periodik agar siklus hidup bibit penyakit dapat dihilangkan.  Penyemprotan dengan desinfektan dapat dilakukan dua minggu atau sebulan sekali dengan menggunakan antiseptic atau soda abu.sabun.  Soda abu 5 % dapat digunakan sebagai pensuci hama kulit,  tangan dan wadah pakan dan air, serta menghilangkan kotoran dan agen infeksi. Alat-alat yang biasa digunakan untuk operasional kandang dapat dicuci dengan antiseptic/alcohol (Fadilah et al., 2002).
Sanitasi ini meliputi praktek disinfeksi bahan, manusia, dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan, serta kebersihan pegawai di peternakan. Sanitasi meliputi pembersihan dan disinfeksi secara teratur terhadap bahan – bahan dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan. Pengertian disinfeksi adalah upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari mikroorganisme secara fisik atau kimia, antara lain seperti pembersihan disinfektan, alkohol, NaOH, dan lain-lain (Suprijatna, E. 1999).
Sanitasi peternakan meliputi kebersihan sampah, feses dan air yang digunakan. Air yang digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya harus memenuhi persyaratan air bersih (Depkes, 2001). Jika digunakan air tanah atau dari sumber lain, maka air harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan air bersih.
Air juga dapat sebagai sumber pencemar. Jika air tercemar, perlu dicari alternatif sumber air lain atau air tersebut harus diolah dengan metode kimia atau metode lainnya. Sumber pencemar lain adalah udara di sekitarnya (Marriott, 1999).
Kandang yang kotor menyebabkan konsentrasi bibit penyakit meningkat dalam kandang.  Kondisi ini akan memperluas peluang ayam terinfeksi atau terserang penyakit.  Sebaliknya, kondisi kandang bersih dan telah didesinfeksi menghasilkan konsentrasi bibit penyakit akan menurun sehingga bibit penyakit berkurang dan ayam aman dari infeksi atau serangan penyakit.

BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1.   Tempat dan Waktu Kegiatan
 Kegiatan Praktek Lapangan ini dilakukan di Desa Lam Ara Samahani Kecamatan Kuta Malaka,  Kabupaten Aceh Besar. Kegiatan dilakukan dari tanggal 10 Februari sampai dengan   2 Maret  2014.

3.2.   Deskripsi Lokasi
Praktek Lapangan (PL)  ini dilakukan di Desa Lam Ara Samahani,  Kecamatan Kuta Malaka, Kabupaten Aceh Besar.  Lokasi peternakan ini terletak tidak jauh dari pusat kota yaitu sekitar 25 km dari kota Banda Aceh.   Desa ini juga dapat dilalui oleh kenderaan roda empat maupun enam sehingga memudahkan dalam mendapatkan sarana produksi seperti ransum, vaksin, dan obat-obatan serta memudahkan dalam pemasaran produk berupa telur ayam ras petelur. Lokasi peternakan jauh dari pemukiman penduduk sehingga tidak mengganggu masyarakat sekitar,  demikian pula dengan ayam ras petelur di lokasi usaha, tidak terganggu oleh kebisingan aktivitas manusia maupun kenderaan  
          Di lokasi peternakan tersebut terdapat 7.000 ekor ayam petelur dan  6 kandang tipe battery.  Kandang yang berisi saat ini hanya tiga kandang.  Masing-masing kandang terisi sekitar  2.333 ekor ayam petelur.
Usaha peternakan UD. Niwatori Kuta Malaka merupakan suatu perusahaan peternakan yang bergerak di bidang unggas disttibutor telur dan sarana peternakan.  Usaha ini didirikan oleh Bapak Dr. Ir. M. Yunus, M. Agric, Sc pada tahun 2008.   Beliau juga sebagai dosen di Jurusan Peternakan,  Fakultas Pertanian,  Universitas Syiah Kuala. 
Total karyawan yang bekerja di  UD. Niwatori Kuta Malaka  adalah  3  orang, terdiri dari 1 orang kepala kandang  dan 2 orang  anak kandang.   Gaji bersih kepala kandang perbulan adalah  Rp2.500.000 sedangkan anak kandang Rp. 1.850.000.   Tingkat pendidikan tenaga kerja adalah tamatan  1 orang tamatan S1 dan 2 orang tamatan SLTA.      

3.3.  Alat dan Bahan
         Peralatan yang digunakan dalam kegiatan Praktek Lapang ini adalah alat-alat yang tersedia di usaha peternakan ÜD. Niwatori Kuta Malaka.  Alat-alat tersebut antara lain terdiri dari sprayer (alat penyemprot kandang),  kereta sorong (arco),  cangkul, skop, dan timbangan.   Sedangkan bahan-bahan yang digunakan antara lain terdiri dari ransum ayam ras petelur,  vitamin, vaksin,  formalin,  rodalon, dan tempat telur (egg tray).

3.4.   Metode Pelaksanaan  Kegiatan
         Metode pelaksanaan kegiatan Praktek Lapangan ini adalah berupa praktek langsung di lokasi usaha peternakan ayam ras petelur petelur “UD. Niwatori Kuta Malaka”.  Waktu kegiatan pelaksanaannya mengikuti jadwal kerja karyawan di perusahaan ini.  Pagi dimulai pada pukul 07.00 sampai dengan 12.00 WIB dengan jam istirahat selama 2 jam.   Siang dimulai pada pukul 14.00 sampai dengan 17.30 WIB, dengan jam  istirahat selama 1 jamKegiatan yang dilakukan selama Praktek Lapang  ini yaitu  sanitasi lingkungan, kandang dan peralatan,  gudang pakan, gudang telur,  dan parit di sekitar kandang dan gudang.  Kegiatan lainnya adalah pemberian ransum, air minum, dan pengambilan telur.
BAB IV
HASIL KEGIATAN DAN PENDATAAN

4.1.   Manajemen Perkandangan
Kondisi kandang dan peralatan yang digunakan dalam pemelihraan ayam ras petelur harus diperiksa dan dipastikan berfungsi optimal.   Perbaikan-perbaikan alat  diperlukan agar fungsinya optimal kembali,  misalnya menutup atap yang bocor atau memperbaiki kandang baterai yang rusak.
Berdasarkan pengamatan kandang di UD Niwatori Kuta Malaka kurang baik karena lantai kandang tidak di cor, dan air di permukaan tanah dapat tergenang bila hujan.perlengkapan kandang kurang baik karena tidak ada penutup dinding.

4.2.  Sistem Perkandangan
              Sistem perkandangan yang digunakan dalam pemeliharaan ayam ras petelur  di UD. Niwatori Kuta Malaka adalah kandang battery.   Kandang battery ini terbuat dari kawat dengan ukuran 1 set  yaitu  panjang 1,2 m, lebar 30 cm, dan tinggi 30 cm.   Satu set memiliki 4 ruang, tiap ruang berisi 2 ekor ayam ras petelur.   Jarak  dasar battery ke lantai adalah 45 cm.   Battery disusun dalam dua baris, kiri dan kanan.   Tiap baris terdiri 4 deretan battery yang disusun berbentuk kerucut.   Tiap baris disi 583 ekor, sehingga total ayam dalam satu kandang adalah 2.333 ekor.   Jarak antara barisan battery kiri dan kanan adalah 1,35 m, untuk jalan pekerja membawa ransum dan mengambil telur.  Pada sisi luar barisan battery juga terdapat jalan petugas  selebar 1,35 m.  Lebar jalan  ini telah memenuhi syarat minimal sehingga  memudahkan petugas membawa kereta sorong berisi ransum ayam dan memudahkan dalam pengambilan telur.    
             Kandang battery ditempatkan di dalam kandang naungan (shading) dengan sistem dinding terbuka (open side house).  Ukuran kandang naungan adalah panjang 80 m,  lebar 4  m,   tinggi bagian samping 3 m dan bagian tengah 4 m.  Kontruksi kandang yaitu, lantai  tanah, tiang kayu, dan atap asbes.  Pondasi lebih tinggi dari tanah sekitarnya dengan ketinggian sekitar 0 cm sehingga air tidak mudah tergenang. Lantai tidak memiliki bak  penampung feces di bawah kandang battery sehingga feses berceceran.  Namun, atap tidak tertutup dengan kawat.  Atap yang digunakan adalah dari bahan asbes tidak dilapisi dengan insulasi karena bahan atap ini tidak menghantarkan panas.   Tidak ada  kandang DOC dan kandang dara, karena pemeliharaan ayam ras petelur petelur di perusahaan ini dimulai dari membeli ayam dara, tidak dimulai dari DOC.    Secara umum,  sistem perkandangan sudah cukup baik, hanya saja dinding kandang masih tertuka tidak tertutup kawat sehingga dapat masuk predator ataupun hewan pengganggu, seperti burung.  Susunan kandang battery ayam arab petelur di perusahaan ini diperlihatkan pada Gambar 2.    

            Fasilitas kandang yang tersedia berupa 4 buah lampu TL  dengan kekuatan  18 watt/bola lampu dan jarak keduanya 20 m. Tempat air minum berbentuk nipple otomatis,  1 nipple/1 unit battery/ untuk 2 ekor ayam (Gambar 3).  Tempat penampungan feses tidak tersedia di bawah battery. Tempat pakan berasal dari pipa paralon dengan ukuran panjang 8 m, lebar 10 cm, berbentuk lengkung dan berwarna putih (Gambar 4).  Tempat air minum yang digunakan adalah sistem otomatis  berbentuk nipple, satu nipple untuk satu ruang yang berisi masing-masing  dua  ekor ayam.  Jadi,  satu nipple  digunakan untuk  dua ekor ayam

4.3.   Manajemen  Sanitasi 
          Kondisi kandang di UD Niwatori Kuta Malaka kotor dan perlu diperhatikan kebersihannya agar kandang lebih bersih dan bias terhindar dari bibit penyakit. Ayam yang berada di UD tersebut sehari terdapat 3 ekor ayam yang mati.kebanyakan terkena penyakit kolera. Feses di buang dekat dengan kandang,feses tidak diolah dan dibuang begitu saja. Pembersihan kandang dilakukan 1 minggu sekali.

4.4.  Manajemen biosekuriti
Sistem biosekuriti yang diterapkan di   UD. Niwatori Kuta Malaka adalah dengan cara menerapkan aturan bagi tamu atau orang - orang yang berkunjung ke lokasi peternakan. Aturan yang diterapkan antara lain adalah  tidak dibenarkan membawa kenderaan ke dalam atau ke samping kandang, serta tidak boleh ada keributan. Kenderaan hanya boleh diparkir di tempat yang sudah disediakan. Tamu yang akan masuk ke dalam kandang harus seizin pemilik ataupun pekerja kandang. Secara umum sistem biosekuriti di perusahaan ini sudah kurang baik, kandang ini kurang memiliki keamanan terhadap hewan-hewan predator karena dinding kandang terbuka tidak tertutup kawat, sehingga memungkinkan predator ataupun hewan-hewan pengganggu (seperti burung)  memasuki kandang.

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
          Kandang yang nyaman dan memenuhi syarat-syarat perkandangan akan memberikan dampak positif karena ternak menjadi tenang dan tidak stres. Sanitasi merupakan tindakan pengendalian penyakit melalui kebersihan. Oleh karena itu untuk memperoleh lingkungan yang bersih, higienis dan sehat tindakan sanitasi harus dilaksanakan dengan teratur.

5.2.  Saran
Kebersihan dan kerapian di sekitar kandang hendaknya lebih diperhatikan untuk menciptakan kenyamanan serta kesehatan ternak agar terhindar dari serangan penyakit dan virus.

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, T. 1993. Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam. Kanisius,  Yogyakarta.

Annonimous.  2010. Sistem Perkandangan Ayam Ras,  Jakarta




Fadilah, R., A. Polana, S.Alam, dan E. Parwanto. 2007.  Sukses Beternak Ayam Broiler.
            Agromedia Pustaka, Jakarta

Jeffrey JS. 1997. Biosecurity for poultry flocks. Poultry fact sheet


Rasyaf, M.  2003.  Pengelolaan Tata Letak Kandang Ayam Ras.  Penerbit Kanisius : Jakarta.

            Martono, 1996. Sistem Perkandangan Ayam Ras. Gadjah Mada University            Press,Yogyakarta.

            Marriott NG. 1999. Principles of Food Sanitation. 4th Ed.Gaithersburg,Maryland:  Aspen.

Sudaryani,T. dan H. Santosa. 2003. Manajemen Pemeliharaan Ayam Ras. Penebar SwadayaJakarta

Suprijatna, E. dan R. Kartasudjana. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya Jakarta.

Suprijatna, E. 1999. Manajemen Penanganan Kandang Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta.


            

1 komentar:

  1. sanitasi kandang ternak, go visit : http://repository.unair.ac.id/85001/

    BalasHapus