PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sektor peternakan memiliki
peranan penting dalam kehidupan dan pembangunan sumberdaya manusia Indonesia.
Peranan ini dapat dilihat dari fungsi produk peternakan sebagai penyedia
protein hewani yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia. Oleh
karenanya tidak mengherankan bila produk-produk peternakan disebut sebagai
bahan “pembangun” dalam kehidupan ini. Selain itu, secara hipotesis,
peningkatan kesejahteraan masyarakat akan diikuti dengan peningkatan konsumsi
produk-produk peternakan, yang dengan demikian maka turut menggerakkan
perekonomian pada sub sektor peternakan.Namun demikian, kenyataannya menunjukan
bahwa konsumsi produk peternakan masyarakat Indonesia masih rendah. Padahal,
abad ini merupakan abad yang penuh persaingan dan pertarungan ketat dalam
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang membutuhkan talenta kuat. Untuk
memenangkan pertarungan ini maka dibutuhkan manusia-manusia cerdas dan kuat.
Hal ini biasa dipenuhi dengan konsumsi protein hewani yang memadai. Rata – rata
konsumsi protein hewani baru 4,19 gram/kapita/hari.
Bibit
ternak merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan dalam pembangunan
subsektor peternakan. Agar tujuan dan sasaran pembangunan peternakan untuk
memenuhi kebutuhan bibit nasional, maka peran teknologi perbibitan menjadi
sangat penting. Beberapa teknologi budidaya yang diyakini mampu meningkatkan
populasi dan mutu genetik ternak dalam rangka penyediaan bibit unggul
diantaranya adalah teknologi inseminasi buatan (IB) dan teknologi transfer
embrio (TE). Dalam pengembangannya dan untuk mengoptimalkan aplikasi teknologi
tersebut telah dikembangkan teknologi kriopreservasi sperma dan embrio,
selanjutnya produksi embrio secara in vitro.
Sapi aceh merupakan salah satu plasma nutfah sapi potong lokal
yang ada di Indonesia selain sapi bali dan sapi Madura. Walaupun tidak
mempunyai laju pertumbuhan yang sama dengan sapi silangan namun sapi potong
local mampu menunjukkan produktivitas dan efisiensi ekonomi yang maksimal pada
berbagai kondisi yang terbatas
Pada saat bersamaan harus juga dibangun pengembangan
peternakan sapi secara intensif dan secara terprogramSelain populasi sapi Aceh cendrung menurun karena
permintaan dan pemotongan tidak sebanding dengan pertambahan populasi, juga
disinyalir keturunannya cenderung lebih kecil akibat perkawinan yang tidak
terkontrol seperti kawin sedarah (inbreeding), dan ketersediaan pakan. Bahkan di lapangan terjadi seleksi
negatif dengan memotong sapi yang bagus, sementara peternak memelihara yang
kecil-kecil saja.
Demikian dikatakan Dr Syamsul Bahri, profesor riset
Puslitbang Peternakan Kementerian Pertanian dalam seminar sehari di aula Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Jumat (27/7) dihadiri para peneliti
dan penyuluh dari berbagai dinas Lingkup Pertanian. Guna mempertahankan populasi sapi Aceh dari kepunahan,
maka diperlukan kebijakan dari pemerintah pusat dan Pemda sebagai payung hukum
untuk dijabarkan oleh dinas teknis dan masyarakat dalam upaya pengembangbiakan
sapi Aceh. “Pemerintah perlu melakukan usaha pembibitan dan pemurnian
sapi Aceh termasuk membatasi kegiatan persilangan untuk maksud yang tidak
jelas”, ujarnya.
Disebutkan saat ini memang tersedia Balai Pembibitan
Ternak Unggul (BPTU) sapi Aceh di Indrapuri, namun ke depan harus dilakukan
revitalisasi terutama merancang program pengembangan sapi Aceh jangka panjang
dengan penentuan wilayah pembibitan dan memberikan insentif bagi peternak yang
melakukan pemurnian dan pembibitan sapi Aceh. Terkait dengan pemotongan betina
produktif, sampai saat ini belum dapat dihindari karena sulitnya
pengawasan di lapangan.
B.
Masalah
Untuk
menambah pengetahuan dalam pengembangan ilmu usaha peternakan, maka mahasiswa
melakukan kunjungan ke balai pembibitan ternak yaitu BPTU-HPT indrapuri Aceh
Besar
C.
Tujuan
1. Mahasiswa
dapat mengetahui program pembibitan sapi lokal aceh di BPTU
2. Mahasiswa
dapat mengetahui keunggulan sapi aceh yang bisa di programkan untuk
pengembangan usaha peternakan sapi potong
3. Untuk
mendapatkan pengetahuan tentang pengembangan sapi aceh
D.
Manfaat
Melalui
kunjungan ke balai pembibitan ternak ( BPTU-HPT ) Indrapuri Aceh Besar dapat
membuka wawasan dalam usaha pembitan, pengembangan, perawatan kesehatan dan
pemuliaan ternak khususnya sapi aceh.
PEMBAHASAN
Latar Belakang BPTU-HPT
Indrapuri Aceh Besar
Balai Pembibitan Ternak Unggul dah Hijauan
Pakan Ternak Indrapuri-Aceh pertama kali didirikan bernama Balai Pembibitan
Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (BPT dan HMT) oleh drh. Mohd. Roesli Yusuf
(Alm), Kadis Peternakan dan Kakanwil Deptan Provinsi DI Aceh yang merupakan
lanjutan dan pilot proyek (small holder) milik Dinas Peternakan Tk. I Provinsi
Aceh dengan SK Mentan Nomor: 313/Kpts/Org/5/1978 pada tanggal 25 Mei 1978.
Balai ini didirikan di atas lahan seluas 430 Ha (sertifikat
No.1 tahun 1983 dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Aceh Besar) di Desa Reukih
Dayah Kecamatan Indrapuri Aceh Besar. Selanjutnya pada tahun 2002 BPT dan HMT
berubah namanya menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Aceh
Indrapuri – NAD dengan adanya SK Mentan No. 282/Kpts/TU. 210/4/2002 tanggal 6
April 2002.
Balai
Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Aceh Indrapuri, Provinsi Aceh merupakan
suatu lembaga pemerintah Republik Indonesia (RI) yang memiliki target untuk
menghasilkan bibit Sapi Aceh unggul yang bermutu, berkualitas dan bersertifikat
dalam jumlah produksi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal dan nasional.
Dalam melaksanakan tugasnya, BPTU Sapi Aceh - Indrapuri sebagai salah satu Unit
Pelaksana Teknis Daerah Pembibitan Ternak melaksanakan pemuliaan, produksi dan
pemasaran Sapi Aceh Unggul, khususnya di Wilayah Aceh serta di seluruh wilayah
kerja Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Balai
Pembibitan Ternak Unggul Sapi Aceh Indrapuri Sapi Aceh mempunyai beberapa
fungsi yaitu sebagai pelaksana uji performance sapi aceh unggul, sebagai
pelaksana perkawinan (breeding) sapi aceh unggul, sebagai pelaksanaan
pemeliharaan bibit sapi aceh unggul, pemberian pelayanan teknik kegiatan
pemeliharaan bibit sapi aceh unggul, sebagai pelayanan distribusi dan pemasaran
hasil produksi dan pemasaran hasil produksi bibit sapi aceh unggul, pelaksanaan
pencatatan (recording) bibit sapi aceh unggul, memberikan pelayanan teknik
kegiatan pemeliharaan bibit sapi aceh unggul. Sapi
aceh merupakan salah satu plasma nutfah sapi potong lokal yang ada di Indonesia
selain sapi bali dan sapi Madura. Walaupun tidak mempunyai laju pertumbuhan
yang sama dengan sapi silangan namun sapi potong local mampu menunjukkan
produktivitas dan efisiensi ekonomi yang maksimal pada berbagai kondisi yang
terbatas. Sapi Aceh memiliki potensi bibit,
nilai ekonomis serta dapat diandalkan untuk memenuhi kepentingan/kebutuhan
nilai gizi asal hewani bagi manusia. Sapi Aceh termasuk bangsa sapi potong yang
banyak dipelihara petani di Aceh sebagai sapi penggemukan atau tenaga kerja
pengolah lahan pertanian. Secara genetik Sapi Aceh memiliki keunggulan
tersendiri, diantaranya berupa kemampuan adaptasi dan reproduksi yang baik
terhadap kondisi lingkungan fisik, iklim maupun cuaca di daerah tropis; adaptasi
terhadap kondisi pakan yang jelek; serta daya tahan terhadap beberapa penyakit
terutama penyakit parasitik.
Sapi
Aceh telah ditetapkan sebagai salah satu Sumber Daya Genetik (SDG) Lokal atau
plasma nutfah, sehingga rumpun Sapi Aceh perlu di pertahankan populasinya agar
tidak punah. Upaya pengembangan Sapi Aceh memerlukan bibit yang memenuhi
standar. Namun oleh keterbatasan informasi, sejauh ini belum ada suatu standar
baku untuk bibit Sapi Aceh, sehingga diperlukan upaya pengukuran performan
reproduksi dan produksi Sapi Aceh, serta persyaratan kesehatan hewan agar
terhindar dari resiko penyakit hewan menular yang dapat mengganggu
produktifitas.
Dalam perkembangannya BPTU Sapi Aceh
Indrapuri – Aceh terjadi pasang surut akibat konflik yang berkepanjangan di Aceh
dan musibah tsunami(2004) yang sangat berpengaruh terhadap kegiatan dan
kelangsungan Balai. Dalam perkembangannya, BPTU Sapi Aceh Indrapuri-NAD
mengalami perubahan nomenklatur kembali pada tahun 2013 yaitu dengan SK Mentan
Nomor: 56/Permentan/OT.140/5/2013 tanggal 24 Mei 2013, BPTU Sapi Aceh Indrapuri
berubah namanya menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak
(BPTU-HPT) Indrapuri.
Kondisi Geografis
Balai Pembibitan Ternak Unggul dan
Hijauan pakan Ternak (BPTU-HPT) Indrapuri Aceh terletak pada koordinat base
station BPTU-HPT Indrapuri 00 5033’22.5821 LU dan 95025’21.5969 BB dengan
topografi umum berbukit-bukit dengan lembah yang agak merata yang berada pada
30 – 80 dpl, mempunyai struktur tanah dengan struktur lempung dan liat.
- Sebelah Utara dengan Desa Aneuk Glee
- Sebelah selatan dengan kawasan hutan
- Sebelah
Timur dengan irigasi proyek Krueng Jreu
- Sebelah barat dengan kawasan hutan.
Balai Pembibitan Ternak Unggul dan
Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Indrapuri berjarak sekitar 30 Km dari Banda
Aceh (Ibukota Provinsi Aceh) dengan jarak tempuh perjalanan antara 45-60 menit
dan berjarak sekitar 34 km dari Jantho (Ibukota Kabupaten Aceh Besar) serta
berjarak sekitar 5 km dari ibukota Kecamatan Indrapuri.
Visi : Terwujudnya pembibitan Sapi Aceh di
UPT dan masyarakat untuk pelestarian plasma nutfah .
Misi:
1. Meningkatnya produktifitas sapi Aceh, untuk
meningkatkan ketersediaan bibit sapi Aceh.
2. Meningkatnya pendapatan peternak
3. Melestarikan Sumber Daya Peternakan Sapi Aceh
dan Plasma Nutfah
Ciri-ciri Sapi
Aceh Betina
1. Warna dominan
merah bata
2. Tidak
berpunuk, bagian pundak tidak rata dan sedikit menonjol
3. Tanduk
mengarah ke samping,melengkung ke atas kemudian ke depan dan lebih kecil
4. Kuping dan daun telinga tidak jatuh, tidak
besar dan agak runcing
5. Tinggi gumba
rata-rata 105 cm
Ciri-ciri Sapi
Aceh Jantan
1. Warna dominan merah bata dan pada
daerah pundak lebih gelap
2. Berpunuk
3. Tanduk mengarah ke samping, melengkung ke
atas dan lebih besar
4. Kuping dan daun telingan tidak jatuh, tidak
besar dan agak runcing
5. Tinggi gumba rata-rata 110 cm
Kegiatan
teknis pada Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Aceh Indrapuri yang dilakukan
baik rutin maupun proyek antara lain pelayanan teknis perneliharaan bibit temak
sapi, produksi bibit ternak, pelayanan teknis produksi.
Ada
tiga kelompok ternak sapi yang dipelihara pada Balai Pembibitan Ternak Unggul
Sapi Aceh Indrapuri -Provinsi Aceh, yaitu:
1.
Kelompok ternak Sapi Aceh yang merupakan sapi lokal Aceh yang diharapkan
kemurniannya untuk program pembibitan.
2.
Kelompok ternak Sapi Brahman yang
didatangkan dari Australia pada pertengahan
bulan Juni 2006.
3.
Kelompok ternak persilangan antara Sapi Brahman dengan Sapi Aceh
Perawatan
meliputi kegiatan yang berhubungan dengan sanitasi kandang dan lingkungan
sekitar, pemberantasan dan pengobatan penyakit. Observasi dilakukan pada setiap
pagi dan sore hari untuk semua kelompok sapi, bila teriihat ada yang
menampakkan kelainan atau kondisi sakit, maka segera dipisahkan dari kelompok
untuk mendapatkan perawatan secara khusus. Perawatan khusus juga dilakukan
terhadap ternak yang melahirkan dan yang akan melahirkan. Tindakan perawatan
kesehatan ternak meliputi:
a). Deteksi dini
penyakit hewan.
b). Persyaratan
bebas penyakit hewan menular utama.
c). Program
vaksinasi dan pengobatan.
Selain
itu juga perlu diterapkan tindakan biosekuriti yang ketat. Tindakan biosekuriti
adalah semua tindakan yang merupakan perlindungan pertama untuk pengendalian
wabah dan pencegahan kemungkinan penularan penyakit dengan ternak serta
penyebaran penyakit. Tindakan biosekuriti diterapkan terhadap:
1.
Ternak bibit dan benih
2.
Manusia yang keluar masuk di lokasi BPTU
3.
Pakan, kandang, peralatan dan alat angkut
4.
Media pembawa penyakit hewan lainnya
Untuk
mengetahui lebih cepat kemungkinan terjadinya penyakit hewan terhadap ternak
bibit pada BPTU perlu dilakukan deteksi dini melalui sistem pemeriksaan reguler
sekurang-kurangnya 3 bulan sekali yang meliputi pemeriksaan terhadap penampilan
fisik hewan, sampel darah, feses, sekreta dan sampel lainnya pada ternak bibit,
sesuai dengan jenis penyakit yang akan diuji. Deteksi dini terhadap penampilan
fisik hewan dilakukan oleh dokter hewan yang berwenang di BPTU, sedangkan
deteksi dini yang dilakukan melalui pengambilan sampel dapat dilakukan oleh
paramedik dibawah pengawasan dokter hewan yang berwenang. Sampel yang telah
diambil selanjutnya dikirim ke Laboratorium Kesehatan Hewan Regional yaitu
Balai Besar Veteriner (BBVet) atau Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner
(BPPV). Hasil pemeriksaan selanjutnya harus didokumentasikan secara tertib,
dilakukan evaluasi sebagai bahan tindak lanjut yang diperlukan.
Pemberian
pakan dilakukan pada pagi hari berupa konsentrat yang terdiri dari campuran
bungkil kelapa, sagu dan mineral. Pada siang hari diberikan pakan hijauan
berupa rumput gajah yang sudah dicincang dengan menggunakan mesin chopper.
Untuk
menjaga kesehatan dan kondisi ternak, maka ternak yang dikurung/dikandangkan,
dan untuk keperluan pengembalaan dilakukan di padang rumput dengan cara rotasi
kandang. Agar tidak terjadi pencampuran antar kelompok, maka lokasi padang
pengembalaan harus terpisah. Padang pengembalaan terdiri dari pengembalaan alam
dan padang pengembkokalaan buatan yang didominasi dengan rumput Brachiaria
decumbens (Bd). Tujuan pengembalaan ini selain untuk exercises dan
mendapatkan makanan secara alami, selain itu juga untuk mendapatkan sinar
matahari secara penuh karena sapi-sapi yang dikandangkan kurang mendapat sinar
matahari.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
hasil kunjungan ke BPTU Indrapuri,Aceh Besar dapat saya simpulkan:
·
Melalui pembibitan, pengembangan, pengeloalaan
dan biosekuriti yang memadai merupakan kunci sukses dalam ilmu usaha
peternakan.
·
Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU)
Sapi Aceh Indrapuri, Provinsi Aceh merupakan suatu lembaga pemerintah Republik
Indonesia (RI) yang memiliki target untuk menghasilkan bibit Sapi Aceh unggul
yang bermutu, berkualitas dan bersertifikat dalam jumlah produksi yang mampu
memenuhi kebutuhan pasar lokal dan nasional.
Saran
Perlu adanya program lebih lanjut
terhadap pelayanan peternak rakyat untuk memperbaiki mutu dan kualitas sapi
aceh melalui program inseminasi buatan semen beku Bull sapi aceh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar