Rabu, 21 Oktober 2015

faktor-faktor penyebab penurunan kualitas telur ayam selama penyimpanan

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Telur merupakan bahan pangan hasil ternak unggas yang memiliki sumber protein hewani yang memiliki rasa yang lezat, mudah dicerna dan begizi tinggi, selain itu telur mudah diperoleh dan harganya relatif murah.
Kualitas telur merupakan karakteristik dari telur yang menentukan kesegaran telur (Soeparno, 2011). Kualitas telur ditentukan melalui proses grading dengan tujuan untuk memperoleh telur yang berkualitas baik, yaitu dengan memisah-misahkan telur berdasarkan warna, bentuk dan berat. Memahami mengenai kualitas telur adalah penting karena telur merupakan bahan pangan yang bergizi tinggi, tetapi telur mempunyai sifat yang  mudah mengalami penurunan kualitas. Kualitas dari sebutir telur ditentukan oleh kualitas bagian dalam (kekentalan putih dan kuning telur, warna kuning telur dan ada tidaknya bintik darah pada putih atau kuning telur) dan kualitas bagian luar (bentuk, ukuran dan warna kerabang). Telur ayam komersial yang normal memiliki ciri-ciri kerabang telur tebal, memiliki berat sekitar 55-65 gram/butir, putih telur kental dan di dalam kuning telur tidak terdapat bintik darah.
Kualitas telur dapat berbeda-beda tergantung pada cara penanganan induk, penanganan produk telur dan pengaruh faktor genetis. Kualitas telur terdiri dari dua bagian, yaitu dalam dan luar telur. Kualitas dalam telur antara lain kontaminasi tetes darah atau serabut daging serta warna kuning telur, kualitas luar telur antara lain ukuran dan bentuk, warna kerabang, permukaan dan ketebalan kerabang, serta porositas (Sarwono, 2002).

B. Tujuan
   Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab penurunan kualitas telur ayam selama penyimpanan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Telur
          Menurut Sudaryani (2003), telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Dari sebutir telur didapatkan gizi yang cukup sempurna karena mengandung zat-zat gizi yang sangat baik dan mudah dicerna. Oleh karenanya telur merupakan bahan pangan yang sangat baik untuk anak-anak yang sedang tumbuh dan memerlukan protein dan mineral dalam jumlah banyak dan juga dianjurkan diberikan kepada orang yang sedang sakit untuk mempercepat proses kesembuhannya.
          Menurut Rasyaf (1990), telur merupakan kumpulan makanan yang disediakan induk unggas untuk perkembangan embrio menjadi anak ayam di dalam suatu wadah. Isi dari telur akan semakin habis begitu telur telah menetas. Telur tersusun oleh tiga bagian utama : yaitu kulit telur, bagian putih telur dan bagian kuning telur.    
2.2.  Struktur Telur
          Kulit (kerabang) telur merupakan bahan alami yang dapat melindungi telur dari masuknya bakteri, tetapi karena kulit telur berpori maka hal ini tidak menjamin bahwa telur akan bebas dari kontaminasi bakteri. Adanya membran pada telur, empat lapis putih telur dan membran kuning telur (vitelline) dapat mencegah bakteri menembus kuning telur, dimana kuning telur ini merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan bakteri. Kulit telur merupakan bagian terluar yang membungkus isi telur dan berfungsi mengurangi kerusakan fisik maupun biologis, serta dilengkapi dengan pori-pori kulit yang berguna untuk pertukaran gas dari dalam dan luar kulit telur (Sarwono,1994). Steward (1972), menyatakan tebal kerabang telur berkisar antara 0,33 – 0,35 mm. Tipisnya kulit telur dipengaruhi beberapa faktor yakni : umur ayam, zat-zat makanan, stress dan komponen lapisan kulit telur. Kulit yang tipis relatif berpori lebih banyak, sehingga mempercepat turunnya kualitas telur akibat penguapan dan pembusukan lebih cepat.
           Putih telur terdiri dari empat lapisan (gambar 1). Lapisan luar terdiri dari cairan kental yang banyak mengandung serat-serat musin. Lapisan tengah merupakan anyaman musin setengah padat, lapisan ketiga merupakan cairan yang lebih encer, sedangkan khalazifera berbentuk serat-serat musin yang terjalin seperti anyaman tali dan membatasi antara putih dan kuning telur, berfungsi untuk menahan kuning telur agar tetap pada tempatnya. Putih telur bersifat lebih alkalis dengan pH sekitar 7,6. Komponen utama dari putih telur adalah protein, sedangkan lemak terdapat dalam jumlah kecil. Protein putih telur utama terdiri dari ovalbumin, conalbumin, ovomucoid, lizozime, dan globulin. Senyawa antimikroba yang terdapat pada telur adalah lizozime, conalbumin, dan ovoinhibitor yang berfungsi untuk membantu memperlambat proses kerusakan telur.
  
           Kuning telur  menyusun 30-33% berat telur, berbentuk hampir bulat dan berwarna kuning sampai jingga tua terletak di pusat telur. Bahan yang memberi warna kuning adalah xanthofil, suatu pigmen carotenoid yang diturunkan dari pakan. Kuning telur terdiri dari latebran, germinal disc,  lapisan konsentris terang dan gelap, vetellin membrane yang membungkus kuning yang bersifat halus, elastic dan berkilau. Pada telur infertile, germinal disc tampak sebagai spot berbentuk tak teratur dan berwarna pucat terletak pada permukaan kuning
.
2.3.  Komposisi Telur
        1. Protein
           Kualitas suatu protein pada bahan pangan ditentukan oleh daya cernanya serta jumlah dan komposisi asam amino esensial penyusunnya. Protein telur bermutu tinggi dan bersifat mudah dicerna, sehingga sangat baik dikonsumsi oleh anak-anak yang sedang tumbuh, ibu hamil dan menyusui, bahkan telur juga dianjurkan untuk diberikan pada orang yang sedang sakit untuk mempercepat proses penyembuhannya.
      
      2.  Lemak
           Hampir semua lemak di dalam telur terdapat pada bagian kuning telur, yaitu mencapai  30 %, sedangkan pada putih telur hanya terdapat  0.03 %.  Satu butir telur mengandung kira-kira 6 g lemak yang bersifat mudah dicerna.  Mengingat kandungan terbanyak pada kuning telur adalah lemak, maka kuning telur merupakan sumber lemak. Komposisi lemak pada kuning telur yaitu 65.5% trigliserida, 28,3% fosfolipid dan 5.2% kolesterol.
        3. Vitamin dan Mineral
            Telur mengandung semua vitamin, kecuali vitamin C dan K. Telur merupakan sumber  vitamin D alami kedua terbesar setelah minyak hati ikan hiu. Oleh karena itu maka telur sangat  baik untuk pertumbuhan tulang anak-anak.
  Tabel 1. Komposisi Kimia Telur
Komponen
Telur utuh (%)
Putih telur (%)
Kuning telur (%)
Air
37.0
87.6
51.1
Protein
12.9
10.9
16.0
Lemak
11.5
-
30.0
Karbohidrat
1.1
1.1
1.1
Karbohidrat bebas
0.3
0.4
0.2
Abu
1.0
0.7
1.7
Sumber : Anonimous, (2012)

2.4.  Kualitas Telur
           Menurut Sudaryani (1996), secara keseluruhan kualitas sebutir telur tergantung pada kualitas isi telur dan kulit telur. Selain itu, berat telur juga menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan kualitasnya.
             Kualitas telur dapat dinilai dari dua bagian, antara lain kualitas telur bagian dalam dan kualitas telur bagian luar. Faktor kualitas telur bagian dalam meliputi kekentalan putih telur dan warna kuning telur, posisi kuning telur bulat serta ada tidaknya noda berupa bintik-bintik darah pada kuning telur atau pada putih telur. Sedangkan faktor kualitas telur bagian luar meliputi : bentuk luar, warna kulit telur, tekstur (permukaan telur), dan keutuhan serta kebersihan kulit telur (Anonimous, 2012).
             Kualitas telur utuh dinilai secara candling yaitu dengan meletakkan telur dalam jalur sorotan sinar yang kuat sehingga memungkinkan pemeriksaan bagian dalam dengan candling. Ini memungkinkan penemuan keretakan pada kulit telur, ukuran dan pergeseran kuning telur, ukuran rongga udara, bintik-bintik darah, bintik-bintik daging kerusakan oleh mikroba dan pertumbuhan benih.
              Menurut sudaryani (1996), kriteria penentuan kualitas telur  dapat dikelompokkan berdasarkan kedalaman rongga udaranya, keadaan putih telur dan kuning telur serta keadaan kulit telur. Berikut ini kualitas telur dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu : AA, A, dan B (Tabel 2).

Tabel 2. Kriteria Penentuan Kualitas Telur
No
Bagian Telur
Kualitas Telur
AA
A
B
1
Kulit telur
Bersih, Tidak retak, Bentuk normal
Bersih, Tidak retak, Bentuk normal
Terang ada sedikit, Tidak retak, Bentuk kadang kadang tidak normal
2
Ruang udara
0,3 cm atau lebih kecil
0,5 cm atau lebih kecil
Lebih dar 0,5 cm
3
Putih telur
Jernih, Pekat
Jernih, Agak pekat
Jernih, Encer
4
Kuning telur
Letak terpusat baik, Kuning jernih, Bebas dari noda

Letak terpusat baik, Kuning kadang ada sedikit noda

Letak tidak terpusat, Kurang jernih, kada-
ng ada sedikit noda

Sumber : Sudaryani, (1996)

2.4.1.  Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Telur
            1. Faktor lingkungan fisik
kerusakan terhadap telur dapat dibedakan tiga macam berdasarkan penyebab     kerusakan: telur bernoda darah, kerusakan warna kuning telur dan kulit telur lunak.
          2. Faktor lingkungan kimia
                 Kerusakan akibat adanya perubahan kimia dapat disebabkan adanya       perubahan suhu, pori-pori telur menjadi besar, penurunan berat, dan kehilangan CO2.
                3.  Faktor  lingkungan biologi
   Lingkungan Biologis Telur yang mengalami kerusakan sehingga menjadi             rusak dan   berbau busuk biasanya disebabkan oleh bakteri.
2.4.2.  Penanganan Dan Penyimpanan Telur
             Daya simpan telur pada unggas biasanya amat pendek. Telur ayam merupakan telur unggas yang daya simpannya paling pendek daripada daya simpan telur unggas lainnya. Untuk memperpanjang daya simpan dan kondisi telur tetap segar, telur tersebut perlu diperlakukan secara khusus. Salah satu upayanya adalah dengan penyimpanan yang benar.
             Faktor yang mempengaruhi kualitas telur setelah keluar dari ayam betina lebih banyak disebabkan oleh faktor teknis penanganannya. Penanganan dan penyimpanan telur merupakan dua faktor penting yang mempengaruhi kualitas telur di luar tubuh ayam betina.
            Menurut Sudaryani (1996), penyimpanan telur memegang peranan penting dalam menjaga kualitas telur. Dalam penyimpanan telur ini, faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah lama dan suhu penyimpanan, serta bau yang terdapat di sekitar tempat penyimpanan.
             Telur akan mengalami perubahan kualitas seiring dengan lamanya penyimpanan. Semakin lama waktu penyimpanan akan mengakibatkan terjadinya banyak penguapan cairan di dalam telur dan menyebabkan kantung udara semakin besar.
            Suhu optimum penyimpanan telur antara 12-15 0C dan kelembapan 70-80%. Di bawah atau di atas suhu tersebut akan berpengaruh kurang baik terhadap kualitas telur. Penyimpanan telur dalam skala besar sebaiknya dilakukan di ruang yang berpendingin (ber-AC). Jika tidak terdapat AC, dalam ruang penyimpanan dapat diletakkan ember berisi air yang berfungsi untuk menjaga kelembapan ruang. Dengan cara ini, penguapan cairan di dalam telur dapat dikurangi. Penyimpanan telur dalam skala kecil atau di rumah tangga dapat dilakukan di lemari es. Untuk mengurangi kerusakan telur, memperlambat hilangnya kelembapan telur, dan mencegah terabsorpsinya bau tajam dari makan lain maka penyimpanan telur di lemari es sebaiknya dimasukkan dalam wadah karton.
            Menurut Mudjajanto (2008), telur-telur yang disimpan pada suhu kamar pada hari kelima tidak menandakan apapun dibandingkan dengan telur segar. Hal tersebut  karena perubahan aroma terjadi pada telur berumur 3 – 4 minggu pada udara terbuka dan 6 – 7 minggu pada lemari pendingin.
            Telur yang disimpan pada udara terbuka dan pada lemari pendingin terdapat perbedaan. Telur yang diletakkan pada lemari pendingin warna yang didapat lebih gelap daripada warna yang didapat pada telur di udara terbuka. Keamanan telur pada lemari pendingin lebih baik dibanding dengan di udara terbuka. Telur ayam mempunyai mekanisme alamiah pencegah bakteri salmonella agar tidak berkembang biak. Namun, enzym pencegah ini hanya bertahan pada 10 hari pertama. Meningkatnya suhu tempat penyimpanan dan rendahnya kelembaban, maka semakin cepat pula enzym pencegah ini kehilangan fungsinya  (Anonimous, 2012).
Penyimpanan telur dalam jangka waktu yang lama dibutuhkan kebersihan dari kulit. Oleh karena itu, pencucian boleh dilakukan, asal tidak berlebihan. Setelah dicuci, sebaiknya telur dicelupkan kedalam minyak parafin cair (60 0C) atau dengan cara telur dicelupkan ke dalam air mendidih sebentar saja (5 detik). Kedua cara ini membentuk lapisan tipis pada kulit telur bagian dalam maupun luar dari lapisan parafin maupun koagulan putih telur. Lapisan tersebut berfungsi menutup pori-pori kulit Telur. Telur disimpan dalam lemari pendingin, lebih baik lagi pada suhu 0 0C agar telur bisa tetap segar dalam waktu lama  (Margono, 1993).
Langkah menambah daya simpan telur bertolak ukur dengan lebarnya poripori.  Pencucian menyebabkan lebarnya poripori, padahal poripori merupakan akses masuknya  berbagai substansi. Substansi tersebut terdapat berbagai hal yang dapat menyebabkan  terkontaminasi isi telur. Hasil akhir dari kontaminasi tersebut adalah kerusakan isi telur. Cara  peletakan telur rongga udara di posisi atas adalah cara penyimpanan telur yang paling tepat.  Telur yang baik adalah yang letak rongga udaranya tetap, dengan rongga udara di atas berarti  rongga udara tidak dihimpit isi telur.
2.4.3.  Penurunan Kualitas Telur
            Menururt Suprapti (2002), beberapa hal yang dapat menyebabkan kerusakan telur yaitu : batas waktu kesegaran (lebih dari 2 minggu), terbentur benda kasar / sesama telur sehingga menyebabkan kulit luarnya retak atau pecah, mengalami guncangan keras, terserang penyakit, pernah dierami namun tidak sampai menetas dan terendam cairan cukup lama. Telur akan mengalami perubahan kualitas seiring dengan semakin lamanya waktu penyimpanan. Menurunnya kualitas telur ini terjadi hampir disemua bagian telur. Secara keseluruhan, telur yang mengalami penurunan kualitas mempunyai ciri–ciri : berat telur berkurang, timbulnya bau busuk, apabila telur sudah rusak.
                 Selain secara keseluruhan telur yang menurun kualitasnya dapat dilihat dari ciri–ciri dari masing–masing bagian telur yang mengalami penurunan kualitas yaitu ruang udara bertambah lebar, perubahan kuning telur, putih telur menjadi encer, & kulit telur berwarna buram.

BAB III
PENUTUP

3.1.  Kesimpulan
         Kualitas telur dapat dinilai dari dua bagian, antara lain kualitas telur bagian dalam dan kualitas telur bagian luar. Beberapa hal yang dapat menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas pada telur selama penyimpanan, adalah : lama penyimpanan, suhu ruang penyimpanan dan cara meletakkan telur. Telur yang baik adalah yang letak rongga udaranya tetap dan masih kecil, posisi kuning telur masih berada ditengah-tengah, keadaan kerabang bersih dan rata.
           
3.2. Saran
            Faktor penyebab penurunan kualitas telur perlu diketahui oleh para peternak                       dan konsumen, untuk mempertahankan kualitas telur tetap baik.
           
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2011. Http://lordbroken.wordpress.com/2011/06/22/serba-serbi-manfaat  telur dan kandungannya.

Anonimous. 2012. Http;//www.okefood.com/read/2012/01/27/ciri-ciri-telur-rusak.

Margono. 1993. http://nutritionavenue.wordpress.com/2011/05/29/pengamatan-pada-penyimpanan-telur.

Rasyaf, M. 1991. Pengelolaan Produksi telur. Kanisius, Yogyakarta.
Sarwono, B. 1994. Pengawetan Telur Dan Pemanfaatan Telur. Penebar Swadaya,   Jakarta.

Sirait, H. Celly. 1986. Telur dan Pengolahannya. Pusat Penelitian dan                    Pengembangan Peternakan, Bogor.

Standar Nasional Indonesia. 2008. Kualitas Telur Konsumsi SNI 3926_2008. Badan          Standarisasi Nasional Indonesia, Jakarta.

Sudaryani, T. 1996. Kualitas Telur. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suprapti L.2006.Pengawetan Telur. Kanisius, Yogyakarta :.
Soeparno. 2011. Http://lordbroken.wordpress.com/2011/06/22/serba-serbi-manfaat-telur-dan-kandungannya.

Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar