Selasa, 20 Oktober 2015

contoh seminar reguler ayam broiler

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pengetahuan mengenai cara pemilihan bibit yang baik perlu dimiliki oleh para peternak, karena meskipun pakan dan manajemen sangat baik, tetapi bila bibit ayam yang digunakan kurang baik mutunya, maka hal ini belum menjamin akan tercapainya produksi yang optimal dari peternakan tersebut. Itulah sebabnya pemilihan DOC ini tidak dapat diabaikan begitu saja, karena akan mempengaruhi proses produksi dalam usaha peternakan. Oleh karena itu dalam memilih DOC, kita harus tahu kualitas strain ayam dan perusahaan pembibit ayam yang meng-hasilkannya, sebab kualitas DOC juga selain ditentukan oleh faktor genetik juga ditentukan oleh proses penetasan pada perusahaan pembibit.
Para peternak perlu mengetahui bahwa perusahaan pembibit yang baru berdiri belum tentu tidak dapat menghasilkan bibit yang berkualitas baik, demikian pula sebaliknya, bahwa perusahaan pembibit yang telah lama berdiri, belum tentu selalu menghasilkan anak ayam yang berkualitas baik. Semua itu tergantung pada bagaimana perusahaan pembibit (“Breeder Farm”) tersebut menghasilkan bibit mulai dari tahapan penetasan, seleksi sampai dengan pemasarannya.
Bagi perusahaan pembibit, tujuan dari adanya pemilihan atau seleksi dan pengklasifikasian DOC adalah untuk menjaga mutu dari bibit yang dihasilkan sesuai dengan harga yang telah ditetapkan.
Seleksi adalah suatu proses memilih ternak yang akan dijadikan sebagai tetua untuk generasi berikutnya.Tujuan umum dari seleksi adalah untuk meningkatkan produktifitas ternak melalui perbaikan mutu genetik bibit. Dalam melakukan seleksi tujuan seleksi harus ditetapkan terlebih dahulu, missal pada ayam , tujuan seleksi ingin meningkatkan produksi telur , berat telur, atau kecepatan pertumbuhan. Jenis Jenis ayam petelur terbagi menjadi 2 tipe yaitu :
1. Tipe ayam petelur ringan, Tipe ayam ini di sebut dengan ayam petelur putih, Ayam petelur ringan ini mempunyai badan yang ramping/kurus, mungil dan kecil. Dan matanya bersinar. Bulunya berwarna putih bersih, dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murci white leghorn, Ayam galur ini sangat sulit di cari, Tetapi ayam petelur ringan komersial banyak di jual di indonesia dengan berbagai nama. Di setiap pembibit ayam petelur di indonesia pasti pasti memiliki dan menjual ayam petelur ringan (Petelur putih) komersial ini. Ayam ini mampu bertelur lebih dari 260 telur pertahun, produksi henhouse. Sebagai petelur Ayam tipe seperti ini memang khusus untuk bertelur saja, Sehingga semua kemampuan dirinya di arahkan kepada kemampuan bertelur saja. Karena dagingnya hanya sefikit, Ayam petelur ringan ini Sensitif terhadap cuaca panas dan keributan. Karena ayam ini mudah terkejut atau kaget dan apa bila ayam ini kaget produksinya akan cepat turun, Begitu juga apabila kepanasan.

2. Tipe ayam petelur medium, Bobot tubuh ayam ini cukup berat, Meskipun itu beratnya masih berada di antara berat ayam petelur ringan juga ayam broler. Oleh karena itu ayam ini di sebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak lah kurus, Tetapi juga tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat menghasilkan daging yang banyak. Tipe ayam ini di sebut juga dengan dwoguna. Karena warnanya cokelat. Maka ayam ini di sebut juga dengan petelur cokelat yang pada umumnya mempunyai warna bulu yang cokelat. Di pasaran Orang-orang mengatakan telur cokelat lebih di sukai dari pada telur yang berwarna putih. Kalau di lihat dari warna kulitnya memang lebih menarik yang cokelat dari pada yang putih. Tetapi dari segi gizi dan rasanya relatif sama saja. Nah, Satu hal yang berbeda adalah harga di pasaran, Harga telur cokelat lebih mahal dari pada telur putih, Hal ini di karenakan telur cokelat lebih berat dari pada telur yang putih. Dan produksi telur cokelat lebih sedikit dari pada telur putih.
B.     Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan informasi Tata cara menyeleksi pembibitan ternak pada  ayam Peletur.. 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pemilihan Bibit Anak Ayam
Bibit merupakan faktor dasar atau genetik yang tidak bisa diabaikan, meskipun faktor bibit itu hanya menduduki 30%, dan 70% berasal dari faktor lingkungan misalnya, suhu lingkungan, pakan, tata laksana pemeliharaan dan lain sebagainya, namun kesemuanya tadi saling berpengaruh terhadap keberhasilan usaha peternakan ayam, karena apabila bibit ayam kualitasnya jelek, meskipun telah dilakukan tata laksana yang baik, kesemuanya tadi tidak akan banyak memberikan pengaruh, menurut Wahju dan sugandi (1984), keberhasilan usaha peternakan ayam merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan.
            Dalam suatu usaha peternakan ayam menurut Wiharto (1985),  ada tiga cara pendekatan yang biasa dilakukan oleh peternak dalam pemilihan DOC sebagai bibit yang baik.  Ketiga cara pendekatan tersebut adalah :
1.  Pendekatan berdasarkan keturunan
2.  Pendekatan secara seleksi berdasarkan observasi penglihatan
3.  Pendekatan berdasarkan rabaan atau sentuhan.

2.1.1.  Pendekatan Berdasarkan Keturunan
            Pendekatan keturunan memerlukan fakta-fakta historis yang perlu dipelajari oleh setiap peternak. untuk mendapatkan fakta ini harus ditanyakan pada peternak-peternak yang telah pernah memelihara bibit yang akan dibeli.
            Fakta historis yang perlu diperhatikan pada bibit ayam petelur maupun ayam pedaging adalah sebagai berikut :
1.  Pada ayam petelur (layer)
-        produksi telur ayam rata-rata tidak kurang dari 20 butir per bulan per ekor selama periode satu tahun pertama.
-        angka mortalitas rendah, yaitu 1 - 5% dan
-        kualitas telur (eksterior dan interior) baik.

2.1.2.  Pendekatan Secara Seleksi Berdasarkan Observasi Penglihatan
            Observasi penglihatan dalam seleksi bertujuan untuk memperoleh anak ayam yang sehat dan diharapkan akan memberikan produksi yang tinggi. Untuk mengetahui bahwa bibit anak ayam (DOC) tersebut sehat, ditandai dengan :
-          anak ayam tampak berotot (bila dilihat menunjukkan badan yang sehat),
-          padat (bulu kelihatan kompak dan berdiri),
-          cepat menanggapi gangguan dari luar,
-          tumbuh dengan sempurna (tidak kerdil dan pertambahan bobot badan sesuai dengan standar),
-          aktif mencari pakan,
-          kondisi kotoran baik (tidak cair, tidak lengket pada kloaka),
-          lincah (tampak tanggap terhadap kondisi sekitar)
-          gesit (selalu bergerak),
-          mata cerah (bersinar dan bergairah),
-          bulu halus dan rapi (tidak kusut dan sayap tidak menggantung),
-          uniform atau seragam (dalam kelompok pertumbuhan bobot badan merata, warna bulu sama),
-          bebas diskualifikasi (tidak cacat badan seperti kaki atau paruh bengkok, mata hanya satu, mata buta, dan lain-lain).
            Bila kita mendapatkan tanda-tanda anak ayam seperti di atas, berarti kita telah mendapatkan DOC yang betul-betul sehat, sehingga memungkinkan untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik.

2.1.3.  Pendekatan Berdasarkan Rabaan atau Sentuhan
            Pendekatan berdasarkan rabaan atau pegangan ini tidak perlu dilakukan dengan memegang seluruh DOC yang ada, tetapi cukup dengan mengambil contoh sebanyak lebih kurang 10% dari populasi.
            Pada perusahaan pembibitan dan penetasan, seleksi terhadap DOC tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu grade A dan grade B  (Rasyaf, 1987).  Ciri-ciri DOC yang masuk ke dalam grade A adalah :
-          dapat berdiri dan lincah,
-          pusarnya sehat (tidak omphalitis),
-          anggota badan lengkap dan normal (tidak cacat),
-          bulu tumbuh dengan sempurna dan warna bulu sesuai dengan breednya (bangsanya),
-          warna kaki atau “shank” tidak pucat,
-          bobot tetas antara 35 - 40 gram (tergantung tipe),
-          perut tidak kembung,
-          tidak terdapat luka atau memar.
            Untuk grade B biasanya mempunyai kualitas yang lebih rendah dari grade A, sehingga harganya pun lebih rendah.  DOC yang termasuk ke dalam grade B biasanya ditandai dengan :
-          pusar yang sehat (tidak omphalitis),
-          anggota badan lengkap dan normal,
-          tidak dapat berdiri dengan tegak dan tidak lincah,
-          kaki atau “shank” pucat,
-          bulu tumbuh dengan sempurna, tapi warnanya tidak merata,
-          perut tidak kembung, dan  tidak terdapat luka atau memar.

2.2.Keuntungan Melakukan Seleksi Dan Culling
          Saat kita melakukan seleksi dan culling pada Parent Stock, maka didapat keuntungan yang tidaklah sedikit, antara lain :
a.   Mengurangi kepadatan kandang (litter size). Hal ini akan mempengaruhi produktivitas ayam karena ayam akan lebih nyaman.
b.  Memperbaiki efesiensi pakan. Hal ini dikarenakan ayam yang sakit, kerdil maupun tidak berproduksi dengan baik sudah dikeluarkan.
c.   Menyeragamkan pertumbuhan. Dalam melaksanakan kegiatan seleksi juga dilakukan kegiatan grading sehingga uniformity (keseragaman) pertumbuhan semakin meningkat.
d.  Pengurangan penyebaran penyakit. Ayam kerdil atau sakit yang diculling kemungkinan besar juga menderita penyakit berbahaya. Sehingga dengan melakukan culling, maka dapat memperkecil kemungkinan terjadinya dan menyebarnya penyakit pada ayam.
e.   Panambahan pemasukan uang. Dengan penjualan ayam afkir maka otomatis akan menambah pendapatan peternak.
f.   Mengurangi beban kerja. Dengan jumlah ayam yang berkurang maka beban kerja atau tenaga yang dibutuhkan untuk bekerja semakin sedikit.
g.  Memudahkan pengontrolan. Semakin padat suatu kandang, maka pengontolan terhadap ternak semakin sulit. Dengan seleksi dan culling akan memudahkan pengontrolan dikarenakan jumlah ternak yang dikontrol berkurang dan adanya tempat khusus hasil grading yang telah dilakukan. 
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan  bahwa :
1.      Keberhasilan suatu usaha peternakan ayam dapat dicapai bila ada interaksi yang baik dari faktor manajemen, pakan dan bibit ternak ayam yang dipelihara.
2.      Ada tiga cara yang dapat pendekatan yang dapat dilakukan untuk memperoleh bibit DOC yang unggul, yaitu pendekatan berdasarkan keturunan, seleksi dan pendekatan berdasarkan rabaan atau pegangan.
3.      Penanganan selama penetasan juga menentukan kualitas DOC yang dihasilkan disamping faktor genetik dari ayam itu sendiri.

3.2 Saran
cara pemilihan bibit yang baik perlu dimiliki oleh para peternak, karena meskipun pakan dan manajemen sangat baik, tetapi bila bibit ayam yang digunakan kurang baik mutunya, maka hal ini belum menjamin akan tercapainya produksi yang optimal dari peternakan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar.  1988.  Pengaruh tata laksana penetasan terhadap kualitas anak ayam. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan IPB : Bogor.
 Rasyaf, M.  1987.  Pengelolaan penetasan.  Penerbit Kanisius : Jakarta.
 Wahju, J. dan D. Sugandi. 1984.  Penuntun praktis beternak ayam. Fakultas Peternakan, IPB Bogor.
Wiharto.  1985.  Petunjuk Beternak ayam.  Lembaga Penerbitan Universitas Brawijaya : Malang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar